Candi Sukuh – Jawa Tengah

candi-sukuh-1

Candi Sukuh merupakan bagian dari kompleks bangunan ritual yang terdiri atas dua candi: Candi Sukuh dan Candi Ceto.

Candi Sukuh terletak sekitar 40 kilometer di sebelah Timur Solo pada ketinggian 910 meter dari permukaan laut.

Kawasan Candi Sukuh terbagi atas tiga pelataran atau teras yang masing-masing berbeda ketinggian sekitar dua meter. Gapura utama yang mengantar pengunjung ke teras pertama sekarang tidak dapat lagi dilalui, dan ditutup dengan pagar besi. Soalnya, pada lantai gapura itu terdapat relief lingga dan yoni (simbol kelamin laki-laki dan perempuan).
Relief-relief yang dijumpai di Candi Sukuh tidak menunjukkan tingkat kehalusan yang lebih tinggi dibanding Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang ratusan tahun lebih tua. Tetapi, tampak nyata elemen tiga dimensinya lebih menonjol. Relief yang menggambarkan rumah, misalnya, memiliki atap yang lebih menonjol dimensi depth-nya.

Pada teras pertama ini cukup banyak arca dan relief yang menggambarkan alat kelamin secara menonjol. Tidak heran bila Candi Sukuh sering disebut sebagai candi porno. Bahkan tidak jarang orang datang berziarah ke Candi Sukuh dengan harapan untuk mendapatkan kesuburan dalam arti reproduktif, alias minta keturunan. Padahal, sangat besar kemungkinan lambang lingga dan yoni dipakai sebagai simbol kesuburan agraris. Selain penggambaran seksual secara grafis, ada juga sebuah relief yang menggambarkan raksasa sedang memangsa manusia.

Pada teras kedua, terdapat gapura yang tidak utuh lagi, dengan sebuah arca Dwarapala (atau Drupala) yang sudah sangat aus. Bentuk arca Dwarapala ini masih tampil sangat kasar – sangat berbeda dengan arca Dwarapala yang sering kita lihat pada bangunan-bangunan kuno yang bertarikh lebih baru. Raksasa penjaga ini tampil dengan alat kelamin yang menonjol. Diduga gapura pada teras kedua ini aslinya berupa candi bentar – bentuk candi yang terbelah, seperti banyak kita lihat di Bali. Teras kedua ini hanya merupakan pelataran datar, tanpa hiasan arca-arca.

Teras ketiga merupakan bagian yang menjadi lahan bagi candi utama. Undak-undakan ke teras ketiga ini juga “dikawal” oleh sebuah gapura yang kini tidak utuh lagi. Pada teras ini terdapat beberapa sisa arca, seperti: kura-kura, garuda, gajah, raksasa, dan Dwarapala.
Beberapa arca pada teras ini mengandung prasasti dan tanda tahun 1441 dan 1442 Masehi. Candi induk tegak menjulang menghadap ke Barat. Bentuk bangunan utama Candi Sukuh ini mempunyai kemiripan struktur dengan bangunan kuil piramida Maya di hutan Mexico dan Guatemala. Bentuk Candi Sukuh seperti yang sekarang dapat kita lihat itu berbentuk piramida jenjang dengan tapak berukuran 15 x 15 meter. Bentuk ini sebetulnya hanya merupakan pondasi candi yang terbuat dari umpak batu, dengan anak-anak tangga terjal dari bawah ke atas. Di atas pondasi berbentuk piramida terpangkas ini kemungkinan sekali dulunya terdapat candi yang terbuat dari kayu. Di tengahnya terdapat arca berbentuk yoni (lambang alat kelamin perempuan). Di bagian ini sebetulnya juga didapati arca lingga (lambang alat kelamin pria). Namun, arca itu kini telah dipindahkan dan disimpan di Museum Nasional.

candi-sukuh-pelataran
Bentuk candi utama yang berstruktur teras-teras berundak, sangat mirip dengan bangunan punden berundak pada masa prasejarah. Sedangkan relief-relief yang berisi cerita Sudhamala dan Garudeya berhubungan erat dengan upacara pelepasan atau ruwatan. Arca maupun relief kura-kura dan garuda yang menonjol di Candi Sukuh adalah lambang-lambang pelepasan yang berkaitan dengan upacara ruwatan –sebuah upacara penting dalam budaya Jawa yang dipercaya sebagai penolak bala dan meneguhkan kesejahteraan serta keamanan jiwa.

Pada setiap 1 Syura (1 Muharram), Candi Sukuh menjadi tempat dilaksanakannya upacara khusus oleh berbagai kelompok penganut kepercayaan leluhur. Candi Sukuh juga memiliki hubungan khusus dengan masyarakat Hindu Bali karena dipercaya bahwa candi ini merupakan bangunan religius terakhir sebelum umat Hindu dari Majapahit mulai menyeberang ke Pulau Bali karena mayoritas penduduk Pulau Jawa telah beralih ke agama Islam.

Tidak jauh dari lokasi Candi Sukuh terdapat air terjun Jumog. Air terjunnya tidak terlalu besar, namun sejuknya udara, jernihnya air dan suasana yang masih alami membuat anda tidak menyesal datang kesini. Di pintu masuk air terjun banyak terdapat penjual sate kelinci yang nikmat disantap saat masih panas.

air-terjun-jumog
Cara mencapainya :

Dari terminal bus Tirtonadi – Solo naik bus jurusan Karanganyar-Tawangmangu. Minta turun di Terminal Karangpandan. Dari sana naik kendaraan elf sampai Terminal Kemuning, kemudian naik ojek sampai pelataran candi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: